Di awal bulan musim penghujan ini, well uda masuk musim hujan bisa dibilang begitu ada beberapa kejadian yang, err..kalau gak dibilang unik, ya aneh. Kenapa? pasalnya waktu gw liputan di rumah seorang anggota DPR yang lagi heboh sembunyi karena kasus korupsi, uda 2x gw ketemu orang yang lagi nyari doi. Dari percakapan antara gw sama 2 orang tersebut, bisa gw simpulin klo si anggota DPR ini ternyata cukup punya potensi buat menyalahgunakan jabatan yang dia miliki saat ini. Kenapa? karena gak mungkin 2 orang tersebut datang cuma buat minta kerjaan aja.
Orang pertama yang gw temui nyari doi dengan alasan ingin minta bantuan untuk masalah yang sedang menimpa dirinya. Masalahnya cukup kompleks dan panjang untuk diceritain. Singkat kata, orang itu mengaku sebagai titisan siti aminah atau bunda maria, seperti itu kurang lebih. Doi yang katanya jauh2 dateng dari indramayu buat ketemu anggota DPR tersebut merasa putus asa karena dia sudah tidak bisa hidup dengan nyaman lagi di kampungnya tersebut karena statusnya dia yang diklaimnya sebagai titisan siti aminah atau bunda maria.
Orang itu bilang kalau selama ini dia banyak dicari pemerintah daerah dan dijanjikan akan diboyong ke luar negeri karena kemungkinan kemampuannya membaca situasi. Sementara orang ke 2, punya misi pribadi yang mungkin akan sedikit tidak etis kalo gw share disini. Yang pasti, orang ke 2 ini terdengar cukup apatis waktu ngobrol sama gw yang dia ketahui sebagai seorang jurnalis. Dia bercerita panjang lebar dengan mimik muka yang sangat serius sampai2 gw bingung harus gimana menanggapinya. Highlight pembicaraan kita malam itu adalah tentang ketidaksahan kepemimpinan presiden Indonesia sejak jaman soekarno dulu sampai sby saat ini. Singkat kata, menurut UUD ada hal yang telah dilanggar oleh presiden Indonesia sejak jaman soekarno dulu. Ironis, UU yang dibuat oleh pemerintah justru dikhianati oleh sang pembuat UU. Tirani kekuasaan jaman soekarno diwarisi sampai kepemimpinan sby yang lebih sering dandan ketimbang berpanas2an.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar